Misi Perdamaian PBB di Sahara Barat Berakhir Setelah 35 Tahun Usai Buntu di Dewan Keamanan
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengumumkan misi perdamaian MINURSO di Sahara Barat resmi berakhir setelah Dewan Keamanan gagal memperbarui mandatnya. Kebuntuan antara Amerika Serikat dan Rusia — veto atas rancangan resolusi masing-masing pihak — membuat salah satu misi perdamaian tertua PBB itu memasuki fase likuidasi per 1 November 2026.
AI menyusun penjelasan baru dari fakta RingkasNow dan metadata sumber—bukan menyalin atau menerjemahkan artikel sumber secara utuh.
Penjelasan berita
Apa yang terjadi
Fakta utama
Mengapa penting
Konteks
Pihak yang terlibat / terdampak
PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA — Salah satu misi perdamaian tertua Perserikatan Bangsa-Bangsa resmi berakhir. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengumumkan pada Minggu (1/11/2026) bahwa Misi PBB untuk Referendum di Sahara Barat (MINURSO) akan dilikuidasi setelah Dewan Keamanan gagal mencapai kesepakatan untuk memperbarui mandatnya.
Penyebab langsungnya adalah kebuntuan antara Amerika Serikat dan Rusia. Rusia memveto rancangan resolusi yang diajukan Amerika Serikat — rancangan yang mencerminkan rencana kedaulatan Maroko atas wilayah sengketa tersebut. Sebagai balasan, Dewan Keamanan menolak rancangan resolusi tandingan yang diajukan Rusia. Tanpa resolusi baru, mandat MINURSO kedaluwarsa tanpa pengganti.
Per 1 November 2026, misi memasuki "fase likuidasi": aset-aset misi dikembalikan ke negara-negara penyumbang pasukan, dan personel ditarik secara bertahap.
## 35 Tahun Tanpa Referendum
MINURSO dibentuk pada 1991 dengan dua mandat utama: memantau gencatan senjata antara Maroko dan Front Polisario, serta menyiapkan referendum penentuan nasib sendiri bagi rakyat Sahara Barat. Referendum itu — alasan utama keberadaan misi — tidak pernah terlaksana karena kedua pihak tak kunjung sepakat mengenai syarat kelayakan pemilih.
Setahun sebelumnya, pada 2025, Dewan Keamanan mengadopsi resolusi rancangan Amerika Serikat yang menerima rencana otonomi Maroko di bawah kedaulatan Maroko sebagai solusi "paling layak" bagi sengketa tersebut. Keputusan itu memperkuat posisi Rabat, tetapi ditolak Front Polisario yang didukung Aljazair.
Reaksi atas berakhirnya misi terbelah persis di sepanjang garis sengketa. Maroko menyambut baik perkembangan ini. Front Polisario menyatakan keprihatinan mendalam, sementara Aljazair menyatakan penyesalan. Guterres sendiri memperingatkan bahwa risiko pertempuran kembali meningkat di wilayah tersebut tanpa kehadiran pasukan penjaga perdamaian.
## Skala Misi dan Cermin Kebuntuan Dewan Keamanan
MINURSO diotorisasi dengan kekuatan hingga 534 personel. Sepanjang 35 tahun operasinya, 20 personel gugur dalam tugas. Anggaran misi untuk periode 2026–2027 tercatat lebih dari 62 juta dolar AS. Negara-negara penyumbang militer terbesar meliputi Mesir, Ghana, dan Pakistan.
Berakhirnya MINURSO menjadi cermin paling gamblang dari kelumpuhan Dewan Keamanan di era persaingan kekuatan besar. Ketika Washington dan Moskow saling memveto, mekanisme perdamaian multilateral yang dibangun puluhan tahun bisa runtuh dalam satu pemungutan suara.
Bagi kawasan, taruhannya nyata: tanpa zona penyangga PBB, eskalasi antara Maroko, Front Polisario, dan Aljazair menjadi skenario yang diperhitungkan banyak pengamat. Bagi PBB, ini adalah pengingat pahit bahwa mandat perdamaian hanya sekuat kemauan politik para anggota tetap Dewan Keamanan untuk mempertahankannya.
Tanya AI tentang berita ini
Sudah membaca tetapi ada yang kurang jelas? Tanyakan hal spesifik. Jawaban hanya berdasarkan sumber berita yang tercatat.
AI dapat keliru. Periksa sumber asli sebelum mengambil keputusan.
