Sejarah! Veda Ega Pratama Finis Kedua di Moto3 Malaysia, Naik ke Tujuh Besar Klasemen
Veda Ega Pratama (Honda Team Asia) mencetak sejarah sebagai pembalap Indonesia pertama yang finis kedua sepanjang sejarah Moto3, usai finis P2 di belakang Maximo Quiles pada balapan Moto3 Malaysia 2026 di Sirkuit Sepang, Minggu (1/11/2026). Tambahan 20 poin membawanya ke tujuh besar klasemen sementara.
AI menyusun penjelasan baru dari fakta RingkasNow dan metadata sumber—bukan menyalin atau menerjemahkan artikel sumber secara utuh.
Penjelasan berita
Apa yang terjadi
Fakta utama
Mengapa penting
Konteks
Pihak yang terlibat / terdampak
Veda Ega Pratama mengukir sejarah baru bagi balap motor Indonesia. Pembalap Honda Team Asia itu finis kedua pada balapan Moto3 Malaysia 2026 di Sirkuit Sepang, Minggu (1/11/2026), dan menjadi pembalap Indonesia pertama yang naik podium kedua sepanjang sejarah kelas Moto3.
Balapan 15 putaran yang dimulai pukul 11.00 WIB itu dimenangi Maximo Quiles dari CFMOTO Gaviota Aspar Team dengan catatan waktu 33:07,634. Veda menyentuh garis finis sekitar 3,7 detik di belakang Quiles, mengungguli Alvaro Carpe yang finis ketiga. Pembalap tuan rumah Hakim Danish menempati posisi keempat.
Hasil ini tidak datang dengan mudah. Veda memulai balapan dari posisi kedelapan setelah mencatat waktu kualifikasi 2:10,861. Sepanjang balapan ia terlibat duel ketat melawan Carpe, Danish, hingga David Almansa, yang berlanjut sampai lap terakhir. Kerja keras itu terbayar lunas dengan podium perdana kelas dua yang bersejarah.
Tambahan 20 poin membawa koleksi poin Veda musim ini menjadi 131, naik dari 111 sebelum balapan. Berdasarkan laporan Kompas TV dan skor.id, Veda kini menempati posisi ketujuh klasemen sementara Moto3 2026. Namun perlu dicatat, sejumlah media lain melaporkan posisi keenam — perbedaan laporan media mengenai posisi pasti Veda ini muncul karena perhitungan poin yang belum merata di seluruh publikasi.
Di puncak klasemen, Quiles semakin menegaskan dominasinya dengan 376 poin. Pembalap asal Spanyol itu bahkan sudah mengunci gelar juara dunia Moto3 2026 sejak seri Mandalika, sehingga kemenangan di Sepang menjadi penegasan statusnya sebagai yang tercepat musim ini.
Podium di Sepang juga menjadi penebusan manis bagi Veda atas nasib kurang beruntung di seri sebelumnya. Pada GP Australia di Sirkuit Phillip Island, ia meraih pole position perdana Indonesia di kelas Moto3 dengan waktu impresif 1:35,299. Sayangnya, balapan tersebut dibatalkan akibat hujan lebat dan kabut tebal yang membuat helikopter medis tidak bisa terbang. Sepekan kemudian di Sepang, Veda akhirnya mendapat kesempatan menunjukkan kecepatannya secara penuh.
Secara musim, sejumlah media mencatat ini sebagai podium ketiga Veda pada 2026. Dua podium sebelumnya adalah finis ketiga di Brasil dan finis ketiga di Prancis — dengan catatan bahwa hasil di Prancis terjadi dalam penyesuaian pascabanding oleh FIM terkait Adrian Fernandez. Meski demikian, podium kedua di Malaysia adalah yang tertinggi sekaligus yang pertama kali dicapai pembalap Indonesia dalam sejarah Moto3, sebuah capaian yang dicatat khusus oleh Oto.com.
Catatan positif Veda musim ini sebenarnya sudah terlihat di kandang sendiri. Pada seri Mandalika, 11 Oktober lalu, ia finis keenam — hasil terbaik di antara seluruh pembalap Honda pada balapan tersebut. Konsistensi performa itulah yang kini berbuah podium di Sepang.
Dengan dua seri tersisa, peluang Veda untuk terus naik masih terbuka lebar. Seri berikutnya adalah Moto3 Qatar yang digelar pada 6-8 November. Sirkuit Losail yang cepat dan berkarakter menuntut stabilitas kecepatan tinggi serta manajemen ban yang cermat, dua hal yang sudah ditunjukkan Veda di Sepang. Jika mampu mempertahankan performa seperti itu, posisi enam besar klasemen bukan mustahil — bahkan pembalap 16 tahun ini berpotensi menutup musim debutnya dengan catatan yang jauh lebih tinggi. Menarik juga menanti bagaimana Honda Team Asia memanfaatkan momentum ini untuk strategi pengembangan pembalap pada musim depan, mengingat performa Veda menjadi sorotan utama skuad tersebut.
Bagi Indonesia, pencapaian Veda di Sepang lebih dari sekadar satu podium. Ia menjadi bukti bahwa pembalap Indonesia mampu bersaing di barisan depan ajang balap motor dunia, sekaligus memberi modal moral yang besar bagi pembinaan balap tanah air.
Tanya AI tentang berita ini
Sudah membaca tetapi ada yang kurang jelas? Tanyakan hal spesifik. Jawaban hanya berdasarkan sumber berita yang tercatat.
AI dapat keliru. Periksa sumber asli sebelum mengambil keputusan.
