Rupiah Tutup Pekan di Rp18.147 per Dolar AS, Diproyeksikan Fluktuatif di Awal November
Rupiah menutup perdagangan Jumat (30/10) dengan pelemahan tipis 0,06 persen ke Rp18.147 per dolar AS, berlawanan arah dengan mayoritas mata uang Asia yang menguat. Sepanjang pekan, mata uang Garuda terdepresiasi 0,37 persen. Para analis memproyeksikan rupiah bergerak fluktuatif cenderung melemah di awal November, dalam rentang Rp18.000 hingga Rp18.320 per dolar AS.
AI menyusun penjelasan baru dari fakta RingkasNow dan metadata sumber—bukan menyalin atau menerjemahkan artikel sumber secara utuh.
Penjelasan berita
Apa yang terjadi
Fakta utama
Mengapa penting
Konteks
Pihak yang terlibat / terdampak
Nilai tukar rupiah kembali melemah pada penutupan perdagangan Jumat, 30 Oktober 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup pada Rp18.147 per dolar Amerika Serikat — turun 10 poin atau sekitar 0,06 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp18.137. Kurs referensi Bank Indonesia melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga melemah ke Rp18.138 dari Rp18.128 sehari sebelumnya.
Yang membuat pelemahan ini menarik perhatian adalah konteksnya: pada hari yang sama, mayoritas mata uang Asia justru bergerak menguat terhadap dolar AS, dengan won Korea Selatan memimpin penguatan sebesar 0,58 persen. Rupiah menjadi salah satu mata uang kawasan yang bergerak sendirian di zona merah.
Secara mingguan, rupiah telah terdepresiasi 0,37 persen dari posisi Rp18.080 pada Jumat pekan sebelumnya (23/10). Tekanan datang dari kombinasi sentimen penghindaran risiko di pasar keuangan global, aksi jual bersih investor asing di pasar saham domestik — data Stockbit mencatat net sell asing mencapai Rp2,23 triliun sepanjang sesi pertama perdagangan Jumat — serta kenaikan harga minyak dunia. Kontrak berjangka Brent naik 86 sen atau 0,75 persen menjadi $115,74 per barel, menambah beban bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan terhadap rupiah bersumber dari sentimen domestik dan berlanjutnya aksi jual investor asing. Ia memproyeksikan rupiah bergerak pada kisaran Rp18.000 hingga Rp18.300 per dolar AS selama sepekan ke depan.
Sementara itu, pengamat pasar valuta asing Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa pelemahan rupiah berlangsung di tengah tingginya ketidakpastian global, yang bersumber dari memuncaknya gesekan geopolitik antara kubu Amerika Serikat dan Iran. Ia memproyeksikan rupiah fluktuatif cenderung melemah dalam rentang Rp18.140 hingga Rp18.190 pada perdagangan Senin (2/11), dan Rp18.000 hingga Rp18.320 untuk sepekan ke depan.
Sebagai bantalan, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur 20–21 Oktober 2026, dengan cadangan devisa akhir September 2026 tercatat US$146,3 miliar.
Tanya AI tentang berita ini
Sudah membaca tetapi ada yang kurang jelas? Tanyakan hal spesifik. Jawaban hanya berdasarkan sumber berita yang tercatat.
AI dapat keliru. Periksa sumber asli sebelum mengambil keputusan.
