KT Luncurkan Token Factory: Satu Platform Kelola 73 Hingga 500 Model AI
Korea Telecom (KT) meluncurkan "Token Factory", platform perusahaan yang memungkinkan pelanggan memilih, memakai, dan membayar puluhan hingga ratusan model AI lewat satu API dan satu tagihan dalam won Korea. Platform ini dibekali perutean model otomatis dan teknologi kompresi prompt yang diklaim memangkas pemakaian token hingga 25 persen.
AI menyusun penjelasan baru dari fakta RingkasNow dan metadata sumber—bukan menyalin atau menerjemahkan artikel sumber secara utuh.
Penjelasan berita
Apa yang terjadi
Fakta utama
Mengapa penting
Konteks
Pihak yang terlibat / terdampak
Raksasa telekomunikasi Korea Selatan, Korea Telecom (KT), resmi meluncurkan platform AI perusahaan bernama "Token Factory" pada 30 Oktober 2026. Konsepnya sederhana namun ambisius: satu pintu bagi perusahaan untuk mengakses, memantau, dan membayar berbagai model kecerdasan buatan — tanpa harus mengurus integrasi dan tagihan ke puluhan penyedia berbeda.
Pada tahap awal, Token Factory menyediakan 73 model: 7 model yang di-hosting langsung di infrastruktur dalam negeri KT — termasuk Mi:dm K 3.0 Pro, Upstage Solar Pro 4, dan Motif 3 — plus 66 model global yang diakses lewat OpenRouter, mulai dari GPT, Claude, Mistral, DeepSeek, hingga model-model xAI. KT menargetkan jumlah model yang tersedia menembus 500 model pada akhir 2026.
Dua fitur menjadi andalan platform ini. Pertama, "Auto Model Router" yang masih dalam tahap beta — sistem yang secara otomatis memilihkan model paling sesuai berdasarkan tugas, kebutuhan kualitas, dan biaya. Kedua, teknologi kompresi prompt yang diklaim mampu memangkas konsumsi token hingga 25 persen, yang langsung berdampak pada tagihan perusahaan.
Untuk menarik pengguna awal, KT memberikan diskon 30 persen atas biaya penggunaan tujuh model domestik hingga 30 November 2026. Perusahaan juga menawarkan tagihan terpadu dalam won Korea, sehingga departemen IT perusahaan tidak perlu lagi mengelola puluhan faktur dari penyedia model yang berbeda.
Langkah KT ini bukan kejadian tunggal. Dua operator besar Korea lainnya — SK Telecom dan LG Uplus — juga dilaporkan bergerak memasuki bisnis yang sama: ekonomi token. Industri telekomunikasi Korea tampaknya tengah memposisikan "token" sebagai unit bisnis berikutnya setelah pulsa suara dan paket data — sebuah model bisnis yang bisa menjadi rujukan bagi operator telekomunikasi di kawasan Asia, termasuk Indonesia, yang tengah mencari sumber pendapatan baru di luar layanan konektivitas tradisional.
Tanya AI tentang berita ini
Sudah membaca tetapi ada yang kurang jelas? Tanyakan hal spesifik. Jawaban hanya berdasarkan sumber berita yang tercatat.
AI dapat keliru. Periksa sumber asli sebelum mengambil keputusan.
