Skandal "Mahasiswa Sewaan" di Deklarasi Sumpah Pemuda Bundaran HI, Peserta Ngaku Dibayar
Acara Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026 di Bundaran HI berujung kontroversi setelah seorang peserta berjaket almamater Undira mengakui dirinya bukan mahasiswa dan dibayar untuk hadir. Universitas yang dikaitkan membantah keterlibatan mereka, sementara Raffi Ahmad yang hadir mengklarifikasi bahwa ia hanya diundang.
AI menyusun penjelasan baru dari fakta RingkasNow dan metadata sumber—bukan menyalin atau menerjemahkan artikel sumber secara utuh.
Penjelasan berita
Apa yang terjadi
Fakta utama
Mengapa penting
Konteks
Pihak yang terlibat / terdampak
Acara bertajuk "Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026" yang digelar pada Kamis, 29 Oktober 2026 di Bundaran HI, Jakarta, berujung kontroversi. Acara yang difasilitasi Polda Metro Jaya ini mengusung tema "Patriotik, Gigih, Berempati" dan dihadiri oleh Utusan Khusus Presiden Raffi Ahmad serta kreator Willie Salim.
Kontroversi bermula ketika seorang peserta bernama Bayu Setiadi alias Dino, yang mengenakan jaket almamater Universitas Dian Nusantara (Undira), menjadi perbincangan di media sosial setelah tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar wartawan mengenai kampus yang tertera pada jaketnya. Rekaman interaksi tersebut kemudian menyebar luas.
Pada Jumat, 30 Oktober 2026, Bayu muncul dalam sebuah video klarifikasi yang diunggah melalui Instagram Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undira. Dalam video itu ia mengakui bahwa dirinya bukan mahasiswa Undira. "Saya mengikuti acara Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran HI pada 29 Oktober 2026 berdasarkan undangan dari komunitas dan saya dibayar," ujarnya dalam klarifikasi tersebut. Ia juga menyebut bahwa jaket almamater yang dikenakannya diberikan oleh panitia acara.
BEM Undira menegaskan bahwa Bayu bukan mahasiswa Universitas Dian Nusantara. Penegasan senada datang dari Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) yang juga membantah telah mengirim delegasi ke acara tersebut, dan menyebut almamater yang beredar dalam pemberitaan kemungkinan dipinjam.
Raffi Ahmad turut memberikan klarifikasi pada 31 Oktober 2026. Ia menyatakan bahwa dirinya hanya hadir karena diundang dan mengetahui soal acara itu pada malam sebelum pelaksanaan. Raffi menegaskan tidak berperan sebagai penyelenggara acara.
Mengenai besaran bayaran, satu laporan menyebut angka yang diklaim peserta sekitar Rp50 ribu. Informasi mengenai siapa yang membayar dan bagaimana mekanisme mobilisasinya belum terkonfirmasi lebih jauh dari sumber resmi.
Perlu dipahami bahwa peristiwa ini didasarkan pada pengakuan dalam video klarifikasi serta bantahan resmi dari pihak kampus. Motif di balik kehadiran peserta berbayar tersebut belum bisa disimpulkan melebihi fakta-fakta yang ada. Menuduh tujuan tertentu di luar fakta yang terverifikasi tidaklah tepat.
Kasus "mahasiswa sewaan" ini kembali memicu diskusi publik mengenai keaslian partisipasi dalam acara-acara deklarasi atau aksi massa di ruang publik. Netizen mempertanyakan bagaimana mekanisme verifikasi peserta pada acara yang mengatasnamakan komunitas mahasiswa tersebut, terutama mengingat jaket almamater kampus bisa diperoleh dan dipakai oleh orang di luar sivitas akademika.
Publik kini menunggu apakah pihak penyelenggara acara akan memberikan penjelasan resmi mengenai tudingan penggunaan peserta berbayar ini. Sampai keterangan itu ada, polemik ini diperkirakan masih akan terus diperbincangkan.
Tanya AI tentang berita ini
Sudah membaca tetapi ada yang kurang jelas? Tanyakan hal spesifik. Jawaban hanya berdasarkan sumber berita yang tercatat.
AI dapat keliru. Periksa sumber asli sebelum mengambil keputusan.
